Rabu, 18 Januari 2017

Sebut Saja Tuan Kebencian


Sebut Saja Tuan Kebencian


Padamu tuan kebencian, yang setiap waktu selalu mengangguku dengan senyuman semanis madu. Tidakkah kau lelah, memperkainkan hatiku dengan lidah-lidah yang penuh nanah?

Suatu hari kau bercerita, bahwa ada duri yang menancap di bawah telapak kakimu. Duri itu manis katamu, sungguh kau benar-benar pembohong yang tidak berotak. Dengan sombong kau berkata bahwa duri adalah racun, lalu bagaimana bisa sebuah racun itu terasa manis bagimu? Racun adalah kebohongan, katamu selanjutnya, di belahan dunia manakah ada kebongan yang tidak terasa manis, tanyamu. Kau terus megulang pertanyaan itu hingga mulutmu penuh buih. Aku jijik dan merinding.

Hei Tuan Kebencian, sadarlah, bahwa sesungguhnya kau adalah kebohongan itu sendiri. Tidakkah sekarang kau merasa begitu manis? Ucapanmu itu?

Kau pernah berkata bahwa kau percaya pada semua hal, kecuali kepolosanku. Apakah kepolosanku benar-benar mengusikmu? Lihat, kau juga tidak mmpercayai dosa-dosamu, dasar brengsek. Dosamu adalah menganggapku sebagai suatu kepolosan.

Tuan kebencian, tidak peduli bagaimana pun juga, aku selalu begitu sulit untuk menerima semua tentangmu.



Tentangmu yang banyak bercerita. Bercerita tentang cinta dan pengorbanan. Sialan, cinta dan pengorbanan itu hanya bualan, kenapa kau selalu mengungkitnya di depanku? Bualan yang lebih kacau dari sebuah kebohongan., yang katamu itu adalah racun, dimana racun di belahan dunia mana pun adalah manis. Benar kan? Cinta dan pengorbanan hanya bualan yang seolah-olah manis. Ini dia yang benar-benar racun. Ini dia duri yang pernah menancap di telapak kakimu yang bahkan bisul saja tidak berani menjamahnya.

Ah, aku sungguh muak. Kata-katamu sama manisnya dengan racun-racun itu. Seyumanmu bahkan lebih menjijikkan dari duri-duri itu. Kau, jangan-jangan kau adalah duri-duri itu? Sialan, rupanya kau memang benar-benar tukang membual. Kau mengarang cerita tentang kepolosanku. Tuan kebencian, kau duri dalam hidupku.

Lihatlah, aku tidak akan membiakanmu membusuk di telapak kakiku seperti kau membiarkan cinta dan pengorbananmu itu menjamur di kepalamu. Aku akan mengikatmu erat-erat dengan kepolosanku yang katamu membuatmu terusik itu. Aku akan dengan polos memenjarankanmu bersama kepolosanku. Biar kau sadar, biar kau tahu, seberapa polos kemunafikan itu.





Selamat tinggal atau sampai jumpa, sebaiknya kucapkan ‘halo”.

15 April 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar