Sebut
Saja Tuan Kebencian
Padamu
tuan kebencian, yang setiap waktu selalu mengangguku dengan senyuman semanis
madu. Tidakkah kau lelah, memperkainkan hatiku dengan lidah-lidah yang penuh
nanah?
Suatu
hari kau bercerita, bahwa ada duri yang menancap di bawah telapak kakimu. Duri
itu manis katamu, sungguh kau benar-benar pembohong yang tidak berotak. Dengan
sombong kau berkata bahwa duri adalah racun, lalu bagaimana bisa sebuah racun
itu terasa manis bagimu? Racun adalah kebohongan, katamu selanjutnya, di
belahan dunia manakah ada kebongan yang tidak terasa manis, tanyamu. Kau terus
megulang pertanyaan itu hingga mulutmu penuh buih. Aku jijik dan merinding.
Hei
Tuan Kebencian, sadarlah, bahwa sesungguhnya kau adalah kebohongan itu sendiri.
Tidakkah sekarang kau merasa begitu manis? Ucapanmu itu?
Kau
pernah berkata bahwa kau percaya pada semua hal, kecuali kepolosanku. Apakah
kepolosanku benar-benar mengusikmu? Lihat, kau juga tidak mmpercayai dosa-dosamu,
dasar brengsek. Dosamu adalah menganggapku sebagai suatu kepolosan.
Tuan
kebencian, tidak peduli bagaimana pun juga, aku selalu begitu sulit untuk
menerima semua tentangmu.
Tentangmu
yang banyak bercerita. Bercerita tentang cinta dan pengorbanan. Sialan, cinta
dan pengorbanan itu hanya bualan, kenapa kau selalu mengungkitnya di depanku?
Bualan yang lebih kacau dari sebuah kebohongan., yang katamu itu adalah racun,
dimana racun di belahan dunia mana pun adalah manis. Benar kan? Cinta dan
pengorbanan hanya bualan yang seolah-olah manis. Ini dia yang benar-benar
racun. Ini dia duri yang pernah menancap di telapak kakimu yang bahkan bisul
saja tidak berani menjamahnya.
Ah,
aku sungguh muak. Kata-katamu sama manisnya dengan racun-racun itu. Seyumanmu
bahkan lebih menjijikkan dari duri-duri itu. Kau, jangan-jangan kau adalah
duri-duri itu? Sialan, rupanya kau memang benar-benar tukang membual. Kau
mengarang cerita tentang kepolosanku. Tuan kebencian, kau duri dalam hidupku.
Lihatlah,
aku tidak akan membiakanmu membusuk di telapak kakiku seperti kau membiarkan
cinta dan pengorbananmu itu menjamur di kepalamu. Aku akan mengikatmu erat-erat
dengan kepolosanku yang katamu membuatmu terusik itu. Aku akan dengan polos
memenjarankanmu bersama kepolosanku. Biar kau sadar, biar kau tahu, seberapa
polos kemunafikan itu.
Selamat
tinggal atau sampai jumpa, sebaiknya kucapkan ‘halo”.
15
April 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar